Suka atau tidak, tak bisa dipungkiri bahwa Batman v Superman: Dawn of Justice memiliki satu kekurangan besar, yakni pada bagian plot ceritanya. Menyuguhkan konflik Batman dan Superman, ditambah kelanjutan Man of Steel dan dibumbui persiapan menuju Justice League, membuat keseluruhan cerita film ini kurang mencapai titik fokus dan akhirnya terasa berantakan. Maka tak aneh bila mayoritas kritikus kompak melayangkan kritikan tajam terhadap film besutan Zack Snyder.

Salah satu pemain Batman v Superman yang berperan sebagai Alfred, Jeremy Irons, tampaknya juga menyadari kekurangan filmnya. Jika pada umumnya seorang aktor cenderung enggan mengakui kesalahan yang ada di filmnya, maka lain halnya dengan Irons. Aktor veteran ini tak segan mengatakan Batman v Superman memang pantas menuai banyak kritik, lepas dari box office film ini yang lumayan besar. Lebih dari itu, Irons juga mengakui Batman v Superman memang berantakan karena memuat terlalu banyak cerita.
“(Batman v Superman) memang pantas dikritik tajam. Maksud saya, filmnya meraup £800 juta sehingga kritikan yang masuk tak terlalu berpengaruh. Tapi filmnya memang terlalu banyak cerita, dan memang berantakan. Menurut saya, film berikutnya akan lebih sederhana. Cakupan cerita di skripnya lebih kecil dan lebih linear,”ujar Irons kepada Daily Mail.
Film berikutnya yang dimaksud Irons diketahui adalah Justice League: Part One, dimana Irons kembali sebagai Alfred. Saat iniJustice League yang masih ditangani Snyder sedang menggulirkan proses syuting di London.
Justice League juga dibintangi Ben Affleck (Batman), Henry Cavill (Superman), Gal Gadot (Wonder Woman), Jason Momoa (Aquaman), Ezra Miller (The Flash), Ray Fisher (Cyborg), Amber Heard (Mera), J.K. Simmons (Commissioner Gordon), Jesse Eisenberg (Lex Luthor) dan Willem Dafoe. Agar kesalahan Batman v Superman tak terulang di Justice League, Warner Bros. pun menjalankan strategi baru yang diyakini akan memperbaiki reputasi DC Extended Universe.
Bukan hanya sekedar berlabel sekuel kedua Captain Americadan film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), Captain America: Civil War jauh lebih besar dari itu ketika dalam materi promosinya ia tidak sekedar mencoba membawa kisah sang Kapten lebih jauh lagi sebagai pembuka fase ke-3 MCU  namun menawarkan lebih banyak kehadiran pahlawan super ‘baru’ sebagai penawar kekecewaan yang mungkin sempat kamu rasakan dalam The Avengers: Age of Ultron.

Memulai segalanya sebagai awal dari fase ketiga MCU, Captain America: Civil War membuka ceritanya dengan efek  pasca insiden Sokovia di Avengers: Age of Ultron yang memaksa para pemimpin dunia terpaksa harus mengambil keputusan dengan membatasi gerak-gerik para Earth’s Mightiest Heroes yang dalam setiap misinya tidak jarang memakan korban jiwa tak bersalah dari masyarakat sipil, terakhir ketika mereka mengejar Brock Rumlow a.k.a Crossbones (Frank Grillo) di Lagos, Nigeria. Tentu saja ini kemudian menjadi situasi rumit yang harus dihadapi para punggawa Avengers, sang pemimpin, Captain America (Chris Evans) menolak menandatangani perjanjian Sokovia, sementara Iron Man (Robert Downey Jr.)  memilih untuk ikut dengan cara pemerintah. Menjadi lebih pelik ketika Steve Rogers harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya, Bucky “The Winter Soldier” Barnes (Sebastian Stan) menjadi tersangka utama di balik salah satu kejadian terorisme mematikan di Vienna, Austria. Sang kapten memilih untuk memberontak dan menyelamatkan Bucky tentu saja dengan konsekuensi besar, ia harus berhadapan dengan separuh teman-teman Avengers-nya sendiri. Sementara dari kejauhan ada sosok misterius Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang punya agenda tersendiri.
Jika dua seri The Avengers menghadirkan konsep good vs evildengan membawa   banyak pahlawan super melawan teror jahat dari luar macam alien atau robot cerdas, maka Captain America: Civil War mencoba tampil lebih ekstrem. Ya, ini adalah pertarungan masif ketika di dalamnya melibatkan aksisuperhero vs superhero seperti yang bolak-balik diperlihatkan dalam beberapa trailler-nya termasuk salah satu yang paling menghebohkan ketika menampilkan kehadiran sosok laba-laba merah dengan konsep yang berada dalam wilayah abu-abu. Ini adalah pertandingan besar antara tim Kapten vs tim Iron Man yang ironis siapa pun siapa pun yang menang maka dunia tetap kalah. Tetapi bukan berarti Civil War menjadi Avengers 2.1dengan hanya mengandalkan satu lusin superhero semata, ini tetap adalah film sang Kapten dan ia tetap menjadi hati dan jiwanya.
Kita tahu Steve Rogers mungkin adalah manusia dengan kebaikan hati begitu besar dan di sini sekali lagi, seperti di dua seri pendahulunya ia kembali harus mengambil sebuah keputusan sulit di situasi yang pelik. Membawa kembali sosok Bucky setelah peristiwa di The Winter Soldier adalah langkah tepat. Bucky jelas menjadi sangat personal buat Steve Rogers, ia tidak hanya sahabat namun juga satu-satunya bagian dari masa lalunya yang masih ada apalagi di sini sang pujaan hati. Peggy Carter dikisahkan telah tutup usia. Jadi melindungi Bucky yang notabene adalah buronan paling dicari adalah sebuah keharusan bagi Steve Rogers.
Tentu saja dibutuhkan alasan kuat mengapa dua kubu superhero harus terpecah dan saling baku hantam. Sepintas mungkin yang terlihat terkesan sederhana, semata-mata hanya ada Captain America yang melindungi teman sekaligus musuh dan saya senang ternyata duo penulis naskahnya, Christopher Markus dan Stephen McFeely tidak menggampangkannya begitu saja. Benturan ideologi berbeda antara tim Kapten dan tim Iron Man dihadirkan dengan alasan yang kuat dan juga rumit. Di satu sisi Steve Rogers tidak ingin aksi kemanusiaan mereka dibatasi yang berarti ia tidak bisa beraksi setiap saat tanpa persetujuan pemerintah, baginya jatuhnya korban sipil dalam sebuah peperangan melawan kejahatan itu memang tidak bisa dihindarkan. Sementara Tony Stark menyetujui langkah pemerintah dan pemimpin dunia untuk membatasi aksi mereka pasca kejadian di Sovokia yang merenggut banyak jiwa tak berdosa ini diperkuat dalam sebuah adegan di mana Stark bertemu dengan ibu dari salah satu korban Sovokia yang menyalahkan aksi heroiknya di Age of Ultron lalu. Tidak ada yang bisa disalahkan dari keduanya, keduanya punya alasan mereka masing-masing yang membuat momen pembukaan Civil War menjadi kuat. Argumen moral tentang perbedaan dalam menyingkapi collateral damage kemudian berujung konflik horizontal kemudian menjadi tak terelakkan. Hubungan antara Steve dan Tony benar-benar mendapat ujian berat di sini, penonton akan disuguhkan sebuah  bromance antara Rogers dan Bucky sementar di tempat lain juga menjadi saksi pertentangan batin Tony Stark dengan segala masa lalu tentang nasib kedua orang tuanya.
Ya, Civil War memang punya konsep menarik ketika menawarkan benturan internal antara sesama superhero dengan segala motifnya, tetapi kalau mau jujur, dari segi penceritaan ia hanya sedikit lebih baik dari Age of Ultron dan masih jauh berada di bawah salah satu seri terbaik MCU;Captain America: The Winter Soldier yang begitu intens dan solid. Setelah first act yang cukup kuat Civil Warkehilangan konsistensi dalam upayanya penceritaannya dan kemudian menderita banyak di sepertiga akhir yang kebantingtelak setelah momentum puncak dalam pertarungan luar biasa di landasan pesawat terbang meski harus diakui juga itu sebuah akhir yang cukup emosional. Ya, beberapa kejutan berupa kemunculan para anggota baru Avengers macam Black Panther (Chadwick Boseman) dan yang paling ditunggu, Spider-Man (Tom Holland) sedikit banyak mampu membiaskan kondisi plotnya yang agak kacau termasuk kehadiran villainmisterius Helmut Zemo  yang dimainkan Daniel Bruhl yang sayangnya berakhir dengan motif terlalu simpel.

Berbicara soal adegan di airport tadi, Civil War di bawah arahan Anthony Russo dan Joe Russo yang kembali dipercaya setelah pekerjaan bagus mereka di The Winter Soldier sukses menghadirkan sekuen pertarungan terbaik sejauh ini dalam sejarah adaptasi superhero layar lebar. Setiap set-piecesdihadirkan duo Russo dengan fantastis, humor, aksi dan spesial efek melebur menjadi sebuah kesatuan kesenangan yang diharapkan tidak pernah berakhir, setiap karakter yang terlibat mendapatkan sinarnya masing-masing. Melihat bagaimana Spider-Man “baru” bergabung dengan penuh gaya menghajar Falcon dan Bucky itu tak terlukiskan dengan kata-kata, terkaman garang Black Panther memberi asupan segar sampai puncaknya aksi Ant-Man bersama kejutan besar jelas adalah mimpi basah yang akhirnya benar-benar terwujud tidak hanya buat para penggemar komik namun siapa saja yang mencintai film superhero. Tidak diragukan lagi, momen itu akan selalu dikenang oleh peontonnya selama bertahun-tahun kemudian.
Spider-Man jelas adalah salah satu daya tarik terbesar buatCivil War setelah Marvel menegaskan rumor yang beredar dalam sebuah trailer yang sempat menghebohkan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Menariknya, Civil War bukan sekedar ajang come back sekelebatan buat Spidey untuk sekedar mencuri perisai si Kapten setelah Sony memutuskan untuk sekali lagi me-reboot salah satu franchise favoritnya itu namun menjadi luar biasa ketika duo Russo memberi porsi cerita tersendiri buat Peter Parker baru dalam wujud Tom Holland dengan segala pesona bocah ABG yang luar biasa cerewet bersama kehadiran bibi May yang ehmm….jauh lebih cant, eh, muda. Tetapi tidak hanya Spidey yang mendapatkan kesempatan untuk tampil debut, T’Challa a.k.a Black Panther yang dimainkan Chadwick Boseman pun turut mencuri perhatian bersama kemunculannya yang elegan. Popularitasnya yang harus diakui masih kalah dengan Spider-Man malah menghadirkan sisi misterius tersendiri yang membuat penonton awam tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, apalagi ia mampu tampil mengesankan di sini dengan kostum keren dan adegan aksi yang memukau.
Meski baru dua film yang ‘ditelurkannya’, kita sama-sama tahulah kapasitas Ducan Jones sebagai seorang sutradara berpotensi besar khususnya di genre fiksi ilmiah, coba lihat saja  bagaimana ia sukses membuat kisah seorang astronot yang kesepian di bulan begitu intens  di Moon atau yang dilakukannya ketika ia bermain-main dengan konsep perjalanan waktu di Source Code yang super keren itu, tetapi kali ini putra dari mendiang rocker David Bowie harus berhadapan dengan tantangan yang lebih besar, lebih sulit dan penuh risiko, yakni membawa dunia video game ke layar lebar yang sudah menjadi rahasia umum adalah sebuah perjudian besar yang susah untuk dimenangkan, sebuah kutukan mengerikan bagi siapa saja yang coba-coba bersentuhan dengan adaptasi satu ini.

Tetapi ini Duncan Jones, memang sampai seberapa buruk sih film yang bisa dibuatnya? Apalagi kali ini sumber aslinya juga bukan main-main; Adaptasinya dari game strategi komputer ternama macam Warcraft yang sempat mengganggu jadwal tidur para gamers ketika pertama kali di luncurkan 22 tahun silam. Ya, sebagai sebuah RTS (Real Time Strategy) kemunculan seri pertama WarcraftWarcraft: Orcs & Humanpada tahun 1994 memang menjadi fenomena tersendiri di kalangan gamers PC. Blizzard Entertaiment sebagai pembuatnya langsung sukses besar yang kemudian dilanjutkan dengan kemunculan judul-judul lain yang tak kalah hebatnya, sebut saja sekuel-sekuel Warcraft, sampai tiga seri termasuk MMORPG World of Warcraft terus berkembang sampai saat ini, franchise Starcfrat yang menjadi mainan wajib anak-anak Korea Selatan sampai franchise RPG Diablo. Ya, jadi setelah kesuksesan yang diraih Bliizard khususnya seri-seri Warcraft-nya, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk kemudian dibuatkan versi live-action nya yang akhirnya benar-benar bisa terwujud setelah pertama kali dicetuskan 2006 silam. Ya, sekali lagi dengan restu penuh Blizzard Entertaiment, sutradara sekelas Duncan Jones dan dukungan kocek besar sampai 169 juta dolar dari studio besar macam Legendary dan Universal Pictures apa sih yang bisa salah dariWarcraft: The Beginning?
Untuk menjawab pertanyaan di atas mungkin harus dilihat dari dua sisi, sisi pertama dari kalangan non-gamers yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan sumber aslinya. Ya, mungkin Warcraft: The Beginning akan terasa terlalu familiar di ranah film, khususnya setelah saga The Lord of The Ringsbegitu perkasa menghadirkan kisah perseteruan fantasi antara manusia dan bangsa Orc. Apa yang disajikan Duncan Jones mungkin tidak istimewa secara premis, penonton awam hanya menganggap ini hanya sekedar sajian fantasi konvensional yang mengekor kebesaran franchise milik Peter Jackson itu meski mungkin mereka akan terhibur dengan aksi dan kekuatan visual efeknya yang betul-betul dimaksimalkan hingga menghasilkan gambar-gambar yang begitu cantik dengan segala tetek bengek efek CGI-nya yang keren, tetapi sekali lagi, dari mata awam, Warcfrat: The Beginning hanya menjadi sekedar film hiburan tanpa kesan apa-apa.
Sementara semua akan terasas berbeda jika kamu melihatnya dari sudut lain, sudut seorang gamers yang begitu mencintai franchise video game satu ini. Warcraft sudah menjadi bagian dari hidup mereka, setiap jam yang pernah mereka habiskan di depan layar monitor, membangun barrack, farm, dan tower, melepas hero, mage dan Griffin dan menyerbu markas orc atau human dengan segala hafalan shortcut-shortcut keyboard dan kecepatan menggerakan mouse adalah pengalaman yang tak terlupakan, jadi tentu saja tidak berlebihan jika kemunculan Warcraft: The Beginning menjadi sesuatu yang sangat personal dan begitu dinantikan buat mereka. Ya, buat isa jadi menjadi pengalaman menonton adaptasi video game terbaik setelah…..entahlah, Tomb Raider atau Final Fantasy VII: Advent Children mungkin?
Hal terbaik yang bisa kamu dapatkan di Warcraft: The Beginningadalah bagaimana usaha Jones membuatnya  sedekat mungkin dengan versi aslinya, lihat saja desain artistiknya yang luar biasa, meliputi set kerajaan Azeroth yang cantik sekaligus mistis, Draenor yang tandus dan mati serta detail-detail karakternya dari Anduin Lothar (Travis Fimmel), Durotan (Toby Kebbell) sampai Gul’dan (Daniel Wu) si orc warlcok,belum lagi saya menyebut segala pemilihan kostum dan atributnya yang sangat familiar dengan franchiseWarcraft. Singkatnya, secara fisik dan atmosfer,  Warcfrat: The Beginning adalah sajian live action fantasi yang Warcfraft banget lengkap dengan parade CGI yang mampu merepresentasikan setiap sihir dan aksi-aksi memukau serta perang berskala masif lengkap bersama iring-iringan scoring menggelegar garapan Ramin , meski harus diakui juga naskah yang dibesut Jones bersama Charles Leavitt tidaklah sekuat presentasinya, tetapi hal ini bisa dimaklumi mengingat sumber aslinya juga sebenarnya tidak punya cerita yang jelas, garis besarnya hanya menampilkan perseteruan manusia dan para orc horde, tidak lebih tidak kurang namun dalam perjalanannya akan ada ras-rasa baru yang turut bergabung meramaikan seperti bangsaNight Elf atau Undead. Menariknya lagi, untuk membuat kisahnya sedikit lebih kompleks, Jones memberinya karakter baru yang tidak ada dalam versi game-nya dalam diri Garona yang dimainkan Paula Patton yang tetap seksi meski dalam balutan tubuh hijau dan taring menonjol. Sayang, tidak banyak yang bisa dieksplorasi Jones di sini, mungkin karena ia hanya bagian awal dari sebuah saga baru sehingga wajar jika kisahnya terasa lemah dan tidak lengkap. Mungkin jika sukses nanti, kita bisa melihat lebih banyak lagi di sekuelnya, ya, jika sukses, semoga.
Para musisi luar kerap menyebutnya dengan ‘Difficult Second Album Syndrom (DSAS), istilah yang dipakai ketika debutmu meraih sukses besar, lalu gagal di album kedua, tetapi franchiseX-Men bukanlah album musik, ia juga menepis mentah-mentah sindrom DSAS ketika seri kedua di dua triloginya yang hanya terpisah lima tahun menjadi bagian terbaik di eranya masing-masing. Ya, X-2 2003 silam berhasil menjadi yang terbaik ketika sukses mengawinkan elemen politik, humanisme dan keseruan sebuah ensamble mutan-mutan keren yang bertarung mempertahankan eksistensi mereka dari manusia yang ketakutan, sementara di masa depan ada X-Men: Days of Future Pasttampil percaya diri berkat dukungan cast muda, kelanjutan dari reboot “halus” X-Men: First Class yang juga luar biasa itu dan narasi time travel-nya yang cerdik menggabungkan sekaligus menghormati tiga seri awal X-Menlengkap dengan kehadiran bintang-bintang lawasnya. Lalu bagaimana dengan seri ketiganya?

Harus diakui X-Men: The Last Stand tidak bisa terlalu dibanggakan. Itu adalah seri terburuk dari delapaninstallement-nya, hanya sedikit lebih baik dari X-Men Origins: Wolverine (2009) yang kacau itu. DSAS mungkin tidak, DTAS‘Difficult third Album Syndrom’ mungkin lebih tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi di franchise X-Men di mana seri ketiga menjadi titik terlemah dari masing-masing era. Tetapi tenang saja, jangan terlalu pesimis dulu, karena seburuk-buruknya X-Men: Apocalypse ia masih jauh lebih baik ketimbang The Last Stand dan WolverineApocalypsehanya sial karena dua pendahulunya tampil terlalu perkasa. Masih ada banyak hal-hal menarik dan kesenangan di sini yang tentu saja tidak bisa kamu lewatkan begitu saja, apalagi sang”bos”, Bryan Singer kembali dipercaya duduk di bangku sutradara setelah kesuksesan dua seri awal X-Men dan terakhir, Days of Future Past.
Jika kamu adalah penonton yang cukup bersabar menunggu sampai  roll kredit Days of Future Past benar-benar berakhir, kamu akan melihat  ada secuil adegan yang melibatkan Mesir dan piramida yang memberi petunjuk tentang siapa yang akan dihadapi pasukan X-Men nantinya, jika kamu adalah fanboypasti tahu siapa yang dimaksud, jika bukan pun maka bersiaplah dengan kedatangan salah satu super villain paling tangguh di dunia mutan. Yap, sejak awal, X-Men: Apocalypseseakan-akan telah menegaskan pemilihan judulnya yang terdengar angker dengan menghadirkan adegan pembuka yang memperkenalkan kita pada sosok En Sabah Nur a.k.a Apocalypse yang terbangun dari tidurnya setelah ribuan tahun terkubur di dasar piramida. Sementara itu 10 tahun berlalu setelah peristiwa Washington, Charles Xavier (James McAvoy) berhasil mewujudkan cita-citanya membuka sekolah bagi anak-anak mutan, sementara Erik “Magneto” Lehnsherr (Michael Fassbender) yang buron memilih mengasingkan diri di sebuah kota kecil di Polandia, mengganti identitasnya dan hidup damai bersama istri dan putrinya. Tetapi tentu saja kedamaian itu tidak bertahan lama, ancaman datang ketika Apocalypse bangkit dan kembali berjalan di atas bumi, menebar teror kehancuran total bersama empat penunggang kudanya.
X-Men: Apocalypse punya sebenarnya punya modal bagus untuk menjadikannya salah satu seri X-Men terbaik mengingat premis tentang kehadiran En Sabah Nur sebagai salah satu musuh paling tangguh dalam komik X-Men. Tetapi di lapangan ternyata sedikit di bawah harapan. Relasi kuat antar tokoh sudah tidak lagi ditonjolkan, persahabatan Charles dan Erik tidak pernah mendapatkan porsi cukup untuk membuat keduanya bisa menghadirkan kedekatan benci-rindu yang penuh emosi dan kompleksitas seperti dua seri terdahulu, sangat disayangkan karena sebenarnya masih banyak hal-hal yang masih bisa digali dari hubungan mereka berdua, misalnya seperti Charles yang lebih dewasa, menjadi mentor buat para anak-anak mutan, atau cerita dari sosok Magneto sendiri yang sebenarnya cukup kuat dan emosional bersama akting solid Fassie sebelum ia direkrut Apocalypse dan dirusak untuk hanya bertransformasi menjadi tukang pukul.  Karakter lain termasuk Raven a.k.a Mystique (Jennifer Lawrence)  juga tidak lagi punya pengaruh sebesar dulu, sebagai gantinya muncul muka-muka lama dalam wujud baru yang diproyeksikan sebagai masa depan X-Men, sebut saja si Cyclops a.k.a Scott Summer (Tye Sheridan), Jean Grey (Sophie Turner), Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) sampai Strom (Alexandra Shipp) dengan dandanan lebih modern.
Tetapi jujur saja, kemunculan wajah-wajah baru ini tidak sekuat ketika pertama kali kita berkenalan dengan X-Men 16 tahun silam yang setiap tokohnya langsung menghadirkan kesan meyakinkan, ya, mungkin saja bukan salah mereka, toh, para calon mutan-mutan ini masih muda di Apocalpse dan Singer juga tidak memberikan mereka kesempatan untuk bisa berinteraksi lebih mengingat masih terlalu banyak yang ingin dihadirkannya, seperti tentu saja cerita tentang Apocalypse sendiri. Sayang lagi-lagi sayang, sebagai fokus cerita sosok Apocalypse sendiri terbilang mengecewakan mengingat kebesaran namanya sebagai mutan pertama dan terkuat, tidak ada motif yang jelas selain kehancuran total, tidak ada kekejaman luar biasa meski Oscar Issac sudah memerankannya dengan maksimal,  memang bisa ditebak pada akhirnya ia bisa dikalahkan tetapi tidak dengan cara yang kelewat luar biasa atau spesial untuk seorang antagonis super, belum lagi saya menyebut penampilan the Four Horsemen-nya yang juga sama lemahnya, khususnya untuk Angel dan Psylocke yang terbuang percuma dengan segala potensinya. Jika ada satu karakter yang mampu mencuri perhatian maka tidak diragukan itu adalah Evan Peters alias Quicksilver. Seperti Days of Future Past, Quicksilver lagi-lagi sukses merebut perhatian penontonnya dengan kemampuan super cepatnya yang sampai-sampai membuat dunia menjadi melambat.
Secara keseluruhan, narasi garapan Simon Kinberg juga tidak secerdas dua seri sebelumnya. Tanpa muatan sejarah, tanpa muatan politis yang kompleks termasuk eksplorasi relasi antar karakternya, Apocalypse bergerak layaknya standar film superhero konvensional, tentang kebaikan melawan kejahatan, tentang usaha menyelamatkan dunia  tidak lebih tidak kurang dengan segala hingar bingar spesial efek mahal yang di sini porsinya ditingkatkan dua kali lipat lebih banyak dari dua pendahulunya, dan tentu saja menjadi spesial karena ini adalah X-Men dengan kebesaran namanya yang sudah dibangun puluhan tahun menjadi franchise superhero yang sama besarnya dengan pahlawan Marvel lain. Menarik adalah bagaimana kemudian X-Men akan melangkah ke masa depan, apa akan ada sekuel baru yang masih terjebak pada era lampau, atau film-film solo dari para anggotanya, macam sekuel Wolverine dan rumor tentang Gambit. Mari kita tunggu saja.
Tidak peduli kamu adalah pembaca seri-seri novel karya Chaos@work atau bukan, melihat transformasi Reza Rahardian menjadi bos brengsek, nyaris botak dan jelek saja dari trailernya saja sebenarnya sudah lebih dari cukup membangkitkan minat untuk menonton karya terbaru Upi, sutradara yang pernah membesut film-film seperti Radit & Jani, Realita Cinta dan Rock’n Roll serta Belenggu. Menariknya lagi, Reza kembali dipasangkan dengan Bunga Citra Lestari, tandemnya di Habibie & Ainun yang bombastis itu.

Oke, harus diakui penampilan nyentrik Reza sebagai Bossman memang tidak ada duanya di sini, sama seperti premisnya itu sendiri yang juga unik dan menyegarkan, belum saya menyebutkan kedekatan ceritanya dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang tersiksa di pekerjaannya karena punya bos menyebalkan, Tetapi percayalah, sebrengsek-brengseknya bos kalian, kamu pasti belum pernah mengenal Bossman. Ibaratnya, dia itu seperti dewanya para bos brengsek, ia memborong semua kriteria terburuk yang pernah kamu temukan di atasan-atasan menyebalkan dari sifat yang luar biasa pelit, tidak peduli dengan bawahan, semaunya sendiri dan asal berbicara tanpa mikir serta tindakan-tindakan absurd yang akan membuatmu geleng-geleng kepala,  lihat saja bagaimana Diana (Bunga Citra Lestari) langsung menyesali keputusannya beberapa detik ketika ia diterima kerja di perusahaan teman dekat suaminya (Alex Abbad) itu. Ya, nasi sudah menjadi bubur, Diana kini tidak bisa mundur karena benturan kontrak kerja, ia terjebak bersama karyawan-karyawan lain yang terlebih dahulu sudah kenyang dizolimi habis-habisan oleh sang bos.

Ya, saya tidak bisa membohongi diri sendiri untuk mengatakan bahwa ini adalah sajian komedi yang menyenangkan meski sebenarnya dengan mudah melihat bahwa ini jauh dari sempurna, teruma naskah yang juga digarap oleh Upi yang tidak terlalu solid bersama penyelesaian konflik yang terbilang payah dan maksa, tetapi ini adalah gelaran komedi yang selalu bisa dimaklumi selama ia bisa menjalankan tugas utama, yakni membuatmu terbahak atau paling tidak tersenyum-senyum geli lah dengan cara yang tidak murahan, dan kamu akan menjadi orang yang sama menyebalkannya dengan Bossman ketika terlalu meributkan hal-hal yang kurang penting di genre ini, toh, Upi sudah terbilang melakukan pekerjaan yang sangat bagus guna menambal kekurangan di narasinya dengan penyutradaraan gemilang yang dibalut presentasi apik dan tata artistik menawan serta visual kaya warna dari Muhammad Firdaus.
Seperti yang saya katakan di atas, My Stupid Boss berhasil menunaikan tugasnya dengan baik dalam usaha memberikan penontonnya sebuah pertunjukan penuh tawa. Memang tidak semua guyonannya kena, beberapa meleset namun porsi kegagalan memancing tawa atau setidaknya senyuman jauh lebih sedikit ketimbang keberhasilannya. Mau tahu yang 100% kena? Ya, kamu jelas tidak bisa menyangkal bahwa My Stupid Boss digerakkan oleh kemampuan akting fantastis Reza Rahardian yang entah bagaimana selalu berhasil menembus batasan yang mungkin membuat aktor lain sudah menyerah duluan. Susah membayangkan jika karakter Bossman yang setengah gila itu dimainkan aktor lain selain Reza.  Bossman adalah karakter yang spesial, dan hanya aktor spesial macam Reza yang mampu menghadirkan sisi paling menyebalkan dalam diri seseorang sama hebatnya dengan sisi baiknya lengkap dengan segala improvisasinya yang luar biasa. Tetapi bukan berarti cast lain bermain buruk, tidak sama sekali. BCL juga tampil keren di balik potongan rambut bob-nya dan kostum yang membuatnya tampak lebih mudah dan imut, Memang susah menandingi keperkasaan Reza yang terlalu kuat di sini, tetapi BCL yang pernah punya pengalaman bermain bersama Reza sebelumnya setidaknya mampu melakukan “jual beli” akting yang mumpuni.
Nama: Geraldo Gunawan
Tempat/Tanggal Lahir: Bandar Lampung / 22 Juni 1996
Jurusan/Prodi : Administrasi Bisnis / Bisnis Internasional
NIM : 145030300111011